Hawa begitu panas kota ini mencabik-cabik pori-poriku. Menghunjamnya dari berbagai arah, kota besar dan memang benar polosi dan udara panas menyengat aku benar-benar tak suka. Berdesak-desakan kami berebut bis, satu bis telah berlalu, menanti dalam jenuh, capek dan mual. Berdiri aku, dan bersiap-siap karena ada bis patas yang datang..tak peduli aku dengan semua berjejal aku, beruntung badanku bisa di ajak kompromi dengan sekali langkah aku bisa melewati beberapa orang, walhasil aku dapat tempat duduk adem di bawah ac. oh..my tas...aku lupa sodaraku yang ada di bawah, wadoh ada harta benda di tas tersebut. Penuh sesak sore ini, aku mulai cemas dan ah..akhirnya di amuncul menenteng tasku. Setelah berpamitan akupun menyandarkan kepala lelahku dan mencoba untuk sejenak menutup mata.
Berisik membuatku tak bisa nyenyak, aku baru sadar lelaki disebelahku sedang asik menikmati makanannya dan sepertinya dia kelaparan karena terlihat begitu lahap. Dia bertanya, "mau kemana?", "Lumajang pak "jawabku singkat, dia sepertinya keturunan Arab hidung mancung dan bahasanya seperti kita membaca Al-Qur'an, dan ketika si menelepon baru aku yakin ni lelaki keturunan. "Turun mana pak", tanyaku agak sedikit penasaran. "Pasuruan...mungkin sekitar 3jamlah".
Tak ingat lagi aku dengan bisingnya dunia, dengan berisiknya bis. Aku telah pergi k-alam lain.Lama sepertinya aku telah menutup dan mengistirahatkan mata lelahku ini. Aku mencari lho kenapa kursi disebelahku kosong, sudah sampaikah ato...aku sedikit linglung, aku pikir paling lelaki tadi telah turun karena aku tak melihatnya.
Ketika aku menoleh, terkejut aku. Aku melihat dia berdiri di antara sela-sela kursi. Batinku masih bertanya, ada apa? dan sadarlah aku. Aku memang tak memakai jilbab. dan Celana yang aku gunakan pas sama dengan badanku. Tak enak aku dibuatnya, lalu dengan segera aku ambil tas dan memangkunya, aku ambil jaket dan menutup rapat badan ini. Lelaki itupun duduk dan mulai menutup mata.
Kesal aku, marah aku dibuatnya...merasa hina badan ini. Walau aku tak berkerudung tetapi aku tak menggoda mata lelaki untuk melihat badanku. celana panjang dan tidak terlalu ketat. baju panjang dan longgar akupun memakai jaket, lalu apa salahnya. Sok suci...aku mengumpat dalam hati. Lalu tiba-tiba ada angin yang berhembus, mungkin dari Ac yang mendingin...hati ini ikut dingin
Aku berterimakasih pada Lelaki Muslim tersebut, dia menghormati aku dan tak ingin aku berbuat dosa dan mungkin dia ingin menjaga matanya. Dalam hati yang rapuh ini aku menangis. Tuhan terimakasih, berulang kali kau ucapkan sayang padaku dengan teguran-teguranmu. Terlelap kembali aku dalam mimpi.
Dan ketika terbangun lelaki muslim tadi tak ada dikursinya ya memang karena kini bis telah berada di probolinggo. Lelaki muslim, terimakasih kau telah menghormati aku dan semoga akan banyak lagi lelaki-lelaki yang mau menghormati kaum lemah kaum wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar